Total Tayangan Laman

Jumat, 28 September 2012

LAPORAN PRAKTIKUM PEMBUATAN PREPARAT APUS DARAH MANUSIA


LAPORAN PRAKTIKUM
PEMBUATAN PREPARAT APUS DARAH MANUSIA
Disusun Guna Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Praktikum Mikroteknik
Tahun Ajaran 2011/2012
Oleh :
Wasil Hidayah
4401409008

Kelompok 2 (staining)
Rombel 2
Pendidikan Biologi

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS METEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2012

PEMBUATAN PREPARAT APUSAN DARAH
Tanggal praktikum
Selasa, 15 Mei 2012

A.    TUJUAN
1.      Membuat preparat apus darah manusia dengan metode apus dan pewarnaan metode Romanowski.
2.      Menganalisis hasil pembuatan preparat apus darah manusia dengan metode apus dan pewarnaan metode Romanowski.

B.     LANDASAN TEORI
Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma yang dapat dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interseluler yang berbentuk  plasma. Fungsi utama dari darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel diseluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisametabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuanmempertahankan tubuh dari berbagai penyakit.
Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tuaapabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein), yang terdapat dalam eritrosit dan mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen. Darah jugamengangkut bahan bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni.
Pada manusia umumnya memiliki volume darah sebanyak kurang lebih 5 liter dengan unsur-unsur pembentuknya yaitu sel-sel darah, platelet, dan plasma. Sel darah terdiri dari eritrosit danleukosit, platelet yang merupakan trombosit atau keping darah, sedangkan plasma darah padadasarnya adalah larutan air yang mengandung :Air (90%)Zat terlarut (10%) yang terdiri dari :- Protein plasma (albumin, globulin, fibrinogen) 7%- Senyawa Organik (As. Amino, glukosa, vitamin, lemak) 2.1%- Garam organik (sodium, pottasium, calcium) 0.9%.
Sel darah pada umumnya dikenal ada tiga tipe yaitu: eritrosit, lekosit dan trombosit. Eritrosit manusia dalam keadaan normal berbentuk cakram bulat bikonkaf dengan diameter 7,2 µm tanpa inti, lebih dari separoh komposisi eritrosit terdiri dari air (60%) dan sisanya berbentuk substansi koloidal padat. Sel ni bersifat elastis dan lunak. Lekosit (sel darah putih) terdapat pada bagian pinggir sel darah, lekosit ini dibagi menjadi dua yaitu granulosit dan agranulosit.
Granulosit terbagi menjadi tiga yaitu Netrofil (terbanyak) berbentuk bulat dengan diameter 10-12 µm, Eosinofil yang strukturnya lebih besar daripada netrofil (10-15 µm) dan Basofil (paling sedikit) dengan ukuran hampir sama dengan netrofil tetapi basofil sangat sulit ditemukan. Agranulosit dibagi menjadi dua yaitu Limfosit yang mempunyai ukuran yang bevariasi, inti bulat sitoplasma mengelilingi inti seperti cincin dan berperan penting dalam imunitas tubuh, dan Monosit (sel lekosit terbesar), intinya berbentuk oval kadang terlipat-lipat dapat bergerak dengan membentuk pseudopodia. Tipe ketiga yaitu Trombosit (disebut juga keping darah), berbentuk sebagai keping-keping sitoplasma lengkap dengan membran yang mengelilinginya, Trombosit terdapat khusus pada sel darah mammalia.
Untuk melihat struktur sel-sel darah dengan mikroskop cahaya pada umumnya dibuat sediaan apus darah. Sediaan apus darah ini tidak hanya digunakan untuk mempelajari sel darah tapi juga digunakan untuk menghitung perbandingan jumlah masing-masing sel darah. Pembuatan preparat apus darah ini menggunakan suatu metode yang disebut metode oles (metode smear) yangmerupakan suatu sediaan dengan jalan mengoles atau membuat selaput (film) dan substansi yang berupa cairan atau bukan cairan di atas gelas benda yang bersih dan bebas lemak untuk kemudian difiksasi, diwarnai dan ditutup dengan gelas penutup (Handari, 2003).
Film darah (sediaan oles) dapat diwarnai dengan berbagai macam metode termasuk larutan-larutan yang sederhana antara lain: pewarnaan Giemsa, pewarnaan acid fast, pewarnaan garam, pewarnaan wright, dan lain-lain. Pewarnaan Giemsa disebut juga pewarnaan Romanowski. Metode pewarnaan ini banyak digunakan untuk mempelajari morfologi sel-sel darah, sel-sel lien, sel-sel sumsum dan juga untuk mengidentifikasi parasit-parasit darah misal Tripanosoma, Plasmodia danlain-lain dari golongan protozoa.

C.     CARA KERJA
Tahap persiapan. Gelas benda A dibersihkan dengan menggunakan alcohol yang diteteskan pada tissue. Tangan kiri dikibas-kibaskan dengan telapak posis telapak tangan kiri sejajar perut selama 20 detik, lalu ujung jari tengah tagan kiri diurut selama 5 detik kemudian disterilkan dengan kapas yang dibasahi alcohol. Blood lanset steril ditusukan pada ujung jari tengah tangan kiri tadi, tetes darah pertama diusapkan pada kapas, tetes darah kedua ditempelkan pada sisi kanan jarak 1 cm gelas benda A yang telah bebas lemak. Pengapusan darah dengan gelas benda B ditempelkan pada tetes darah di gelas benda A sudutmya 45o, ditarik ke sisi kanan, lalu didorong ke sisi kiri cepat dan konstan. Apusan darah dikeringkan diatas  rak pewarnaan (10 menit).
Tahapan persiapan selesai jika apusan darah  manusia sudah kering. Apusan darah difiksasi dalam staining jar berisi metil alcohol dalam 1 celupan selama 3 detik. Apusan darah dikeringkan pada rak pewarnaan datar dengan kipas angin sampai kering. Setelah kering apusan darah diwarnai pada larutan dalam staining jar berisi zat warna Giemsa dalam metil alkohol selama 3 detik dalam satu celupan. Apusan darah dikeringkan pada rak pewarnaan dengan kipas angin. Apusan darah dicuci dengan air mengalir dalam botol leher angsa yang telah dididihkan dan didinginkan kembali. Preparat apus darah manusia ditiriskan pada rak miring dan dikeringkan menggunakan kipas angin. Dilabeli dengan kertas label sesuai identitas preparat pada 0,5 cm dari ujung kanan gelas benda dengan posisi memanjang. Preparat apus darah diamati menggunakan mikroskop pada perbesaran kuat, difoto dan dianalisis hasilnya.



D.    HASIL PENGAMATAN

NAMA PREPARAT
HASIL PENGAMATAN
KETERANGAN
Apus darah manusia
Metode smear
Fiksatif metal alcohol
Pewarna giemsa
15 Mei 2012
Perbesaran 10x10
Rounded Rectangle: Eritrosit
   
Rounded Rectangle: Leukosit    


Rounded Rectangle: Leukosit
 



Apus darah manusia
Metode smear
Fiksatif metal alcohol
Pewarna giemsa
15 Mei 2012
Perbesaran 40x10
Rounded Rectangle: Plasma darahRounded Rectangle: EosinofilRounded Rectangle: MonositRounded Rectangle: Eritrosit Rounded Rectangle: Neutrofil

Sel darah merah atau eritrosit terlihat bening tampak keabu-abuan, sedangkan leukosit tampak terwarna jelas, yaitu intinya terwarna ungu dan sitoplasma terwarna ungu muda. Preparat tampak rapat namun sudah cukup baik karena tidak banyak sel-sel darah yang bertumpuk, selain itu preparat tampak bersih dari kotoran. Paling banyak teramati adalah eritrosit, sedangkan leukosit yang tampak yaitu neutrofil dan monosit, terdapat juga eosinofil dalam jumlah terbatas. Titik kecil yang terwarna ungu merupakan plasma darah..
E.     PEMBAHASAN
Praktikum pembuatan apusan darah manusia ini menggunakan metode apus/ smear/ oles. Darah yang digunakan adalah darah manusia . Berdasarkan foto dari hasil pengamatan preparat apus darah manusia dengan pewarnaan Giemsa diketahui bahwa preparat secara fisik cukup baik, bersih, dan terwarna. Dapat terlihat adanya eritrosit dalam jumlah banyak dan leukosit.
Eritrosit teramati terwarna agak bening transparan. Eritrosit berbentuk bulat, dengan bentuk seperti cekungan (cakram) pada sisi dalam (tengah) dan tak berinti. Leukosit ditunjukkan dengan sel yang memiliki inti berwarna ungu. Warna ungu disebabkan oleh inti leukosit yang basa sehingga mudah menyerap zat warna giemsa. Leukosit yang paling banyak dijumpai ialah neutrofil dan monosit berkisar antara 10-15%, serta sedikit eosinofil dengan presentase kurang dari 5%.  Presentase neutrofil memang paling banyak dalam darah, yaitu mencapai 50-70% dari jumlah leukosit yang ada. Ditemukanya leukosit dalam preparat apus darah menunjukkan bahwa pendonor sdang mengalami sakit berkaitan dengan fungsi leukosit sebagai bentuk pertahanan tubuh manusia.
Preparat tampak rapat namun sel-selnya dapat teramati dengan baik karena tidak bertumpuk, sehingga dapat dikatakan ketipisan apusan sudah cukup baik.

F.      KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Preaparat awetan darah dapat dibuat dengan metode apus dan metode pewarnaan Romanowski
2.      Pewarnaan apus dengan zat pewarna giemsa dapat membedakan eritrosit yang tidak terwarnai giemsa dengan jelas  dan leukosit yang terwarna dengan kontras dan dapat membedakan bagian nukleus dengan bagian sel yang lain.

G.    SARAN
1.            Untuk mengapus agar dilakukan setipis mungkin sehingga preparat tidak terlalu rapat.
2.            Untuk pewarnaan giemsa pastikan giemsa yang dipakai masih bagus (belum rusak atau terkontaminasi) sehingga mewarnai denga baik.

H.    DAFTAR PUSTAKA
Marianti, Aditya.2010. Petunjuk Praktikum fisiologi Hewan. Semarang : Biologi FMIPA UNNES.
Rudyatmi E 2012. Bahan Ajar Mikroteknik. Semarang: Jurusan Biologi FMIPA UNNES.
Subowo. 2006. Histologi Umum. Jakarta : PT Bumi Aksara.

2 komentar: